TANGERANG — Sedikitnya 200 pedagang Pasar Kronjo Kabupaten Tangerang bangkrut alias gulung tikar yang ditengarai akibat mangkraknya proyek revitalisasi yang dikerjakan pengembang PT. Trivalenia Citra Utama (TCU).
Kondisi bangkrutnya ratusan pedagang tersebut terungkap dalam rapat dengar pendapat (RDP) àntara pihak terkait dengan Komisi 2 DPRD Kabupaten Tangerang, di ruang rapat gabungan DPRD setempat, Senin, 2 November 2026. Tampak hadir antara lain sejumlah warga yang mengaku dari Komunitas Pedagang Pasar Kronjo (KPPK), Dirut Perumda Pasar Niaga Kerta Raharja (NKR), Finny Widiyanti, Camat Kronjo M. Mumu Mukhlis dan Dirut TCU, Rahmat. Sedangkan pihak DPRD hadir personel Komisi 2, Yakub, Iyan Mulyana dan Deden Umardani.
Tokoh pedagang, H. Aspuri dan Ade I dari KPPK hampir senada menyampaikan bahwa kondisi mangkraknya proyek revitalisai pasar tersebut menyebabkan ratusan pedagang terhenti kegiatan niaga.
“Mereka gulung tikar dan kini menganggur, entah sampai kapan ini akan berlangsung. Ini diperparah bersamaan munculnya wabah Covid 19 pada 2019 dan terus berlanjut hingga kini,”jelas Aspuri.
Menurut Ade, harapan akan bangkitnya ekonomi pasar mulai tumbuh di kalangan pedagang ketika ada proyek revitalisasi yang dilaksanakan Perumda Pasar NKR dengan menggandeng pengembang PT TCU.
“Tapi itu semua jadi pupus lantaran harga yang ditawarkan sangat jauh dari kemampuan pedagang,”katanya.
Selain itu, tempat penampungan sementara (TPS) yang disediakan pengembang ternyata sangat tidak memadai karena dibangun dibawah peil banjir. “Sehingga kalau banjir TPS jadi becek, bahkan barang-barang pedagang pun terendam dan banyak yang hanyut,” ungkap Ade.
KPPK, lanjut dia, kemudian memberi solusi dengan membangun TPS Gotong Royong yang relatif lebih baik karena berada di atas peil banjir. “Ini sama sekali bukan TPS tanding, namun lebih kepada solusi agar pedagang bisa tetap berjualan,” imbuh Ade.
Camat Kronjo M. Mumu Muklis tak menampik soal ketidak pastian revitalisasi Pasar Kronjo. “Kasihan juga mereka sejak 2019 nasibnya terkatung-karung. Semoga segera ada jalan keluar,”harap Mumu.
Dirut PT TCU, Rahmat, saat dihubungi pers enggan berkomentar. “Silakan tanya Pak Jecky saja yang tahu persis apa yang terjadi di lapangan,”kilahnya.
Pihak PT TCU menginformasikan, rencana revitaliasi pasar tersebut diestimasi menelan investasi Rp 18 miliar dengan luasan hampir 9000 meter persegi. Menurut pelaksana PT TCU, Jecky, di pasar tersebut semula memiliki data eksisting pedagang 500 orang, kemudian menyusut menjadi 300 dan terakhir hanya 105 yang menyicil tempat berdagang, baik kios maupun lapak.
Jecky mengklaim warga yang hadir di forum RDP dengan DPRD Kabupaten Tangerang itu bukanlah para pedagang yang pernah membangun kesepakatan sejak awal. “Saya pastikan mereka itu orang baru yang tak pernah menjalin kesepakatan dengan kita,”ujarnya.
Namun Jecky tak memungkiri proyek fisik revitalisasi terhenti saat ini. Di lokasi, menurut dia, kegiatan konstruksinya dihentikan untuk sementara.
“Kemudian jangka waktu pengerjaan proyeknya juga sudah habis, tentu ini diperlukan adendum. Tetapi yang terpenting bagi kami, adalah adanya kesungguhan pedagang untuk benar-benar komitmen dengan kesepakatan yang dibuat,”pungkasnya.
Merespon apa yang berkembang di forum RDP, Komisi 2 DPRD Kabupaten Tangerang memberi tengat waktu 15 hari. “Tadi semua pihak sudah kami dengar pendapatnya. Untuk itu Komisi 2 DPRD memberikan tengat waktu 15 hari kepada para pihak, baik pedagang Pasar Kronjo, developer PT TCU maupun Perumda Pasar NKR agar duduk bareng mencari penyelesaian terbaik,”ujar Yakub, anggota Komisi 2 yang memimpin RDP.
Kata Yakub, perundingan para pihak tersebut mencakup pula perubahan adendum jangka waktu tambahan penanganan revitalisasi pasar. “Dengan tengat waktu itu kami minta nantinya sudah ada keputusan pakah revitalisasi dilanjut atau tidak, apakah developer PT TCU masih mau menggarap proyek itu dengan mengajukan perubahan adendum atau sebaliknya mundur. Silakan manfaatkan tengat waktu tadi, nanti kita panggil lag,” pungkas politisi Nasdem ini.





