NU di Masa Transisi: Harapan pada Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj

IMG 20260203 WA0058

BANTEN — Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada pada fase transisi kepemimpinan yang menentukan. Bukan semata pergantian struktur, melainkan momentum untuk memastikan jam’iyah tetap setia pada khidmah, adab, dan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Dalam suasana inilah, harapan warga NU tertuju pada ikhtiar menghadirkan duet kepemimpinan KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dan KH Said Aqil Siroj.

Bagi NU, transisi kepemimpinan bukan peristiwa administratif. Ia adalah ujian kedewasaan jam’iyah dalam merawat kesinambungan nilai dan arah perjuangan ulama. Para masyayikh sejak lama mengingatkan bahwa pemimpin NU bukan mereka yang mencari panggung, melainkan yang siap ngopeni dan memikul amanah.

Karena itu, perbincangan mengenai figur pemimpin NU seharusnya diletakkan dalam bingkai khidmah. Siapa yang mampu menjaga NU tetap berada di jalan tengah, tidak terjebak pada ekstremitas, serta tetap kokoh dalam tradisi keulamaan dan adab, dialah yang layak mendapatkan kepercayaan.

Bacaan Lainnya

Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj menghadirkan harapan akan keseimbangan tersebut. Ia merepresentasikan perjumpaan antara generasi penerus yang sedang tumbuh dan pengalaman panjang seorang kiai sepuh dalam memimpin NU. Transisi tidak dipahami sebagai pemutusan, melainkan sebagai penyambung khidmah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kepemimpinan hanya akan kokoh bila ditopang oleh ketaqwaan, akhlak mulia, serta ilmu dan kompetensi. Prinsip ini hidup dan dirawat dalam tradisi pesantren, sekaligus menjadi standar etika kepemimpinan di NU.

Gus Salam merupakan bagian dari mata rantai keulamaan NU. Sebagai dzurriyat KH Bisri Syansuri, muassis NU dan pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, ia mewarisi amanah besar. Namun di lingkungan NU, nasab bukanlah keistimewaan yang berdiri sendiri, melainkan tanggung jawab yang harus ditebus dengan ilmu, adab, dan khidmah.

Alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso ini dikenal tekun dalam tradisi bahtsul masail. Ia tidak hanya piawai mengurai kitab kuning, tetapi juga berupaya menerjemahkan fikih dan manhaj NU ke dalam bahasa zaman, agar tetap relevan tanpa kehilangan pijakan.

Pengalaman Gus Salam dalam struktur jam’iyah NU—mulai dari Katib Syuriyah PBNU, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, hingga Wakil Ketua PWNU Jawa Timur—membentuknya sebagai sosok yang memahami NU secara utuh. Ia terbiasa menghadapi perbedaan dengan musyawarah dan adab, bukan dengan kegaduhan.

Sementara itu, KH Said Aqil Siroj adalah ulama sepuh yang telah lama menjadi rujukan warga NU. Sanad keilmuannya yang berakar dari pesantren besar hingga Ummul Qura Makkah menjadi fondasi kokoh bagi sikap keulamaan dan kepemimpinannya. Pengalamannya memimpin PBNU selama dua periode menjadikannya figur yang matang dalam membaca dinamika internal dan eksternal NU.

Dalam posisi Rais Aam, KH Said Aqil Siroj diharapkan mampu meneguhkan kembali peran Syuriyah sebagai penjaga arah dan ruh jam’iyah, agar NU tetap berada di jalur manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di tengah perubahan zaman.

Duet Gus Salam dan KH Said Aqil Siroj mencerminkan karakter dasar NU: keseimbangan antara regenerasi dan kearifan, antara ikhtiar lahir dan doa batin, antara semangat pembaruan dan keteguhan tradisi. Kepemimpinan yang tidak tergesa, tetapi juga tidak diam—alon-alon asal kelakon.

Di masa transisi ini, warga NU patut menyambut setiap ikhtiar kepemimpinan dengan husnuzan. Sebab NU besar bukan karena satu figur, melainkan karena jam’iyah yang dirawat bersama dengan keikhlasan dan adab. Jika amanah kelak dipikul oleh mereka yang layak, maka tugas kita adalah menguatkan, mengingatkan, dan mendoakan.

Semoga Allah SWT membimbing para pemimpin NU dalam setiap fase transisi, meluruskan niat mereka, meneguhkan langkah mereka, dan menjadikan setiap khidmah sebagai amal yang diterima. Sebab pada akhirnya, NU tidak sedang mencari siapa yang paling menonjol, melainkan siapa yang paling siap mengabdi.

Penulis:
H. Ahmad Imron
Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Banten
Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Falahiyyah (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *