Faktakini.id, TANGERANG – Perhelatan akbar MTQ Ke-54 Tingkat Kabupaten Tangerang yang akan berlangsung di Kecamatan Solear dari tanggal 11-16 Januari 2024 tinggal menghitung hari, akan tetapi dalam MTQ tahun ini pihak pelaksana meniadakan iring iringan atau pun biasa disebut Pawai Ta’aruf, Kamis (4/01/2024).
Adapun dasar di tiadakannya pawai ta’aruf ini dikarenakan tahun politik dan juga kemacetan jelang menuju lokasi MTQ, hal tersebut mendapatkan beberapa komentar dari warga dan juga aktivis Kabupaten Tangerang.
Seperti yang di ungkapkan oleh Purwanti warga curug mengatakan, MTQ tahun ini akan terasa hambar tanpa adanya pawai ta’aruf, seperti makan nasi tanpa garam, pawai ta’aruf sudah menjadi tradisi setiap ada MTQ bahkan pada PHBI lainnya, karena biasanya peserta pawai akan berlomba lomba untuk menampilkan kreasinya atau karya terbaiknya yang di bawa dari wilayahnya dan hal tersebut telah menjadi tradisi dari tahun ke tahun.
“Ga rame pak (Wartawan, Red), gimana itu panitia karena infonya Pawai Ta’aruf di hilangkan, kan itu mah sudah jadi tradisi dalam penyelenggaraan MTQ ataupun PHBI lainnya, justru dengan ditiadakannya Pawai ta’aruf masyarakat tidak akan ada penyambutan di jalan, sepi pak, biasanya masyarakat akan menyambutnya dengan riang gembira karena adanya kreasi dan karya dari tempat mereka tinggal, kalau alasannya politik dan macet itu mah sudah biasa pak,” ucapnya kesal.
Sementara Aa, aktivis Kabupaten Tangerang mengatakan bahwa Pawai Ta’aruf ini juga menjadi momentum berharga bagi seluruh peserta MTQ dan masyarakat untuk semakin mempererat tali persaudaraan, mencintai tradisi, dan melestarikan seni budaya serta kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa.
“Dengan euforia pertunjukan warna-warni dan keberagaman khasanah budaya dari masing-masing Kecamatan ini, menambah suasana pelaksanaan MTQ ke 54 tingkat Kabupaten Tangerang tahun 2024 ini, Seharusnya dengan Pawai Ta’aruf ini menjadikan dakwah islamiah semakin meriah dan semarak,” ungkapnya, Kamis (4/1/2024).
Lanjut Aa’ menambahkan, jangan karena alasan tahun politik sehingga Pawai Ta’aruf yang menjadi ciri khas dan tradisi itu ditiadakan.
“Jika informasi itu benar, lalu dimana kita mau menjadikan dan memajukan budaya, tradisi serta kearifan lokal tadi, dan jangan juga mengkambinghitamkan tahun politik, atau memang nggak punya anggaran, miris jika itu jadi alasannya,” ujar Aa. (red)








